Yogyakarta Kota Hanacaraka : Disbud Kota Yogyakarta Gelar Kompetisi Alih Manuskript di Momentum Hari Aksara Internasional

Kompetisi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta tahun ini mengusung tema “Aksara Jawa Anjayeng Bawana” selaras dengan tema penyelenggaraan oleh Dinas Kebudayaan DIY. Makna mendalam dari maksud ini adalah untuk memasyarakatkan kembali aksara Jawa. Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan juga untuk mendekatkan kembali aksara Jawa di tengah kehidupan sosial budaya masyarakat.  

Sudah selayaknya aksara Jawa mampu bersanding sejajar dengan aksara lainnya di dunia. Harapannya aksara Jawa menjadi salah satu bentuk aksara untuk saling berkomunikasi keseharian kita, baik melalui sosial media maupun sebagai bentuk sebuah karya. 

Kompetisi Alih Manuskrip merupakan mata kompetisi baru yang diselenggarakan tahun ini oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Meski begitu, kompetisi ini mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Kejuaraan Alih Manuskrip ini melibatkan para penggiat dan praktisi budaya yang berkompeten di bidangnya. Yuri yang digandeng yakni Venny Indria Ekowati M. Lit, Florentinus Galih Adi Utama M.A dan Fajar Wijanarko S.S.
 
Banyak aspek yang dinilai di Final Alih Manuskrip ini, termasuk di dalamnya seperti ketepatan penulisan aksara Jawa, keindahan goresan aksara, keindaham wedana renggan, pemilihan simbol dalam wedana renggan, dan makna yang terkandung dalam wedana renggan.

“Setelah kami wawancarai, ternyata para peserta ini tidak sembarangan ketika membubuhkan ilustrasi sebagai ornamen hias pada kertas kerja mereka. Pengetahuan tentang budaya dan kemampuan riset mereka tentang naskah ternyata sangat baik. Proses yang dilakukan peserta juga tidaklah mudah. Para peserta harus melakukan pengayaan terhadap diri mereka terlebih dahulu terkait dengan tata tulis dari aksara latin ke Jawa. Dan ternyata, dalam prosesnya terdapat diskusi panjang. Ada peserta yang masih duduk di bangku sekolah, mereka berdiskusi terlebih dahulu dengan gurunya. Dan peserta lainnya juga melakukan diskusi serupa dengan kelompok atau rekan-rekannya. Dalam pemilihan ornamen hias para peserta juga terbukti menampilkan bentuk-bentuk kebudayaan seperti membubuhkan ornamen batik, keris, ukir dan lain sebagainya,” tutur Fajar Wijanarko.

Fajar sendiri juga mengaku bahwa dirinya positif bahwa para peserta mampu melestarikan menuskrip yang bukan hanya secara fisik tetapi juga secara pemahaman terhadap isi naskah. “Meski prosesnya sangat panjang dan tidak bisa dilakukan dalam tempo singkat, tapi bila dilihat dari tangible value yang coba mereka hadirkan, tampaknya mereka memiliki kemampuan untuk menjadi agen pelestari kebudayaan. Tidak menutup hanya pada manuskrip tapi juga kebudayaan secara luas. Saya yakin masih banyak lagi kemampuan yang mereka miliki dan bisa disalurkan sebagai pelestari, penikmat, pengamat, sampai dengan praktisi kebudayaan. Entah itu di masa ini maupun di era yang akan datang”, tuturnya.

Nada serupa juga dituturkan oleh Ketua Dewan Juri Alih Manuskrip, Venny Indria Ekowati, dirinya sangat optimis mengenai hal ini. “Saya sangat-sangat optimis apalagi mayoritas peserta adalah generasi muda. Pemahaman terhadap isi naskah menurut saya cukup sulit. Apalagi teks digubah dalam bentuk tembang Macapat Dhandanggula. Tembang Macapat memerlukan pemahaman mendalam karena memaknai suatu puisi Jawa tradisional, apalagi yang ditulis pada masa lampau memerlukan usaha keras. Paling tidak harus faham terhadap diksi yang dipilih, pengetahuan terhadap konteks atau latar belakang budaya Jawa, serta pemahaman terhadap metrum tembang. Pembacaan heuristik dan hermeneutik yang tepat juga diperlukan untuk memahami sebuah puisi. Oleh karena itu, jika para peserta sudah mampu untuk memahami makna suatu tembang, bahkan lebih jauh disalin dalam aksara Jawa, dan lebih jauh lagi dibuat wedana renggannya, lebih-lebih harus mempresentasikan karyanya di depan dewan juri, kami yakin ada tekad dan keinginan kuat untuk turut serta dalam melestarikan dan merevitalisasi aksara Jawa sebagai salah satu wujud budaya Jawa” tuturnya.

Vanny berharap kompetisi-kompetisi terkait aksara Jawa akan memperkuat jalinan berbagai usaha pemasyarakatan aksara Jawa yang telah dilakukan baik oleh Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta maupun Kundha Kabudayan Provinsi DIY. Vanny juga mengapresiasi upaya dinas kebudayaan Kota Yogyakarta ini. Menurutnya Kundha Kabudayan sudah sangat baik dalam upaya nyengkuyung tradisi, sehingga kompetisi ini sendiri juga perlu ditradisikan. Tentunya dengan merangkul lebih banyak pihak. Misal dengan perluasan peserta, jadi pelajar maupun mahasiswa yang kuliah di kota Yogyakarta bisa mengikuti kompetisi ini, tentunya dibuktikan dengan kartu pelajar atau kartu mahasiswa.


“Kesastraan Jawa terutama aksara Jawa bukan hanya berhenti pada konsep dan diskusi tentang paugeran tata tulis saja, namun bagaimana kita membangun sistem dan menyusun strategi untuk mengembalikan marwah orang Jawa yang berbahasa Jawa dan beraksara Jawa. Perlu gerakan bersama membuktikan eksistensi aksara Jawa kepada dunia. Bahwa aksara Jawa  masih aktif digunakan oleh masyarakat Jawa” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., MM di ruang kerjanya Rabu (8/9).


Selain itu, Yetti juga berharap melalui kegiatan ini aksara Jawa semakin dikenal kembali dan menjadi salah satu bentuk aksara untuk saling berkomunikasi, baik melalui media social, maupun sebagai bentuk sebuah karya.


Rangkaian kegiatan final kompetisi Bahasa dan Sastra ini juga bertepatan dengan momentum peringatan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September 2021. Kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Yogyakarta Kota Hanacaraka. 

Lima Pemenang Kompetisi Alih Manuskript ini adalah Ahmad Firial Kardias, Danang Rusmandoko, Fransiska Deiss Ayu Arsanti, Suwandi SS, dan Nabila Khairunnisa.