Menjulang dengan Bahasa Indonesia, Mengakar dengan Bahasa Jawa: Refleksi di Era Digital

Yogyakarta, Jumat (29/11/2024) – Dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2024, diskusi bertajuk Balai Bahasa SIYAGA: Menjulang dengan Bahasa Indonesia, Mengakar dengan Bahasa Jawa menjadi panggung penting untuk merefleksikan keberadaan dua bahasa utama Indonesia di era digital. Berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, acara ini digelar oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta dan menghadirkan narasumber utama: Dra. Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa DIY, serta Iqbal Aji Daryono, penulis. Diskusi dimoderatori oleh Fajar Wijanarko, kurator museum Keraton Yogyakarta.
Tantangan Bahasa di Era Digital
Di tengah arus globalisasi dan masifnya informasi digital, penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa menghadapi tantangan serius. Generasi muda, khususnya Gen Z, semakin terampil menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Namun, situasi ini kerap menggeser penggunaan Bahasa Indonesia dan bahkan memperburuk penurunan penggunaan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu.
"Bahasa Jawa merupakan akar, selalu ingat akarmu," tegas Dra. Dwi Pratiwi. Ia menekankan bahwa Bahasa Jawa adalah identitas kultural yang tak tergantikan.
Dwi Pratiwi juga menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara "akar" dan "sayap." Bahasa Jawa, sebagai akar, menjadi fondasi yang kuat untuk membangun jati diri, sementara Bahasa Indonesia dan bahasa asing menjadi sayap untuk mengeksplorasi dunia yang lebih luas.
“Akar akan menguatkan, dan sayap memungkinkan anak-anak menjelajahi dunia,” tambahnya.
Menghidupkan Bahasa Daerah di Tengah Globalisasi
Sementara itu, Iqbal Aji Daryono menggarisbawahi dualitas peran Bahasa Indonesia: sukses sebagai bahasa persatuan, tetapi di sisi lain, ia juga berkontribusi pada meredupnya bahasa daerah.
“Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan paling sukses, tapi di saat yang sama ia juga membunuh bahasa daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar untuk Bahasa Jawa adalah bagaimana membuatnya tetap relevan dan keren di mata generasi muda.
“Banyak orang merasa malu berbahasa daerah. Dibutuhkan strategi yang tidak sekadar seremonial, tetapi membuat penutur merasa bahwa bahasa daerah itu penting dan membanggakan,” ujarnya.
Iqbal juga optimistis terhadap Bahasa Indonesia, yang tetap digemari melalui musik dan karya sastra. Namun, ia menekankan bahwa pelestarian Bahasa Jawa memerlukan inovasi kreatif untuk menarik minat generasi muda.
Solusi dan Langkah Nyata
Melalui kegiatan ini, sejumlah tujuan strategis digagas, di antaranya:
1. Menggugah kesadaran masyarakat tentang ancaman terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.
2. Mengidentifikasi faktor penyebab pergeseran penggunaan kedua bahasa tersebut.
3. Merumuskan solusi nyata untuk menjaga keberlanjutan kedua bahasa.
4. Menumbuhkan semangat penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di kalangan generasi muda.
Diskusi interaktif ini juga membuka ruang refleksi bagi peserta, yang terlihat antusias berdialog dengan narasumber.
Menjaga Bahasa, Menjaga Identitas Bangsa
Di akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa upaya melestarikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah langkah strategis untuk menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Dengan mencintai dan menggunakan kedua bahasa ini, generasi muda diharapkan tidak hanya cakap menghadapi dunia modern tetapi juga tetap bangga pada akar budayanya.
Melalui inisiatif seperti Balai Bahasa SIYAGA, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta memberikan inspirasi nyata tentang bagaimana bahasa bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan cinta tanah air.