Silent Reading dan Pembacaan Puisi Meriahkan Festival Sastra Yogyakarta

– Rangkaian Festival Sastra Yogyakarta pada Kamis (28/11) menghadirkan kegiatan bertajuk “Danau Senja”. Acara ini diisi dengan silent reading bersama Perpustra dan pembacaan puisi oleh komunitas Lincak. Bertempat di tepi embung, kegiatan ini menciptakan suasana literasi yang unik dan reflektif bagi para peserta.
“Silent reading adalah wadah bagi pecinta literasi untuk membaca buku yang mereka bawa sendiri. Kami ingin menciptakan suasana baru dalam membaca, sekaligus mendorong interaksi melalui diskusi santai setelahnya,” ujar Dhaifa, anggota tim produksi Perpustra.
Kegiatan ini menjadi upaya komunitas untuk menjaga ekosistem literasi yang sudah terbangun sekaligus menarik lebih banyak minat terhadap budaya membaca. Para peserta terlihat antusias, menikmati buku bacaan mereka di bawah langit senja Yogyakarta.
Puisi Menggugah Hati
Setelah sesi silent reading, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh komunitas Lincak. Salah satu puisi yang dibacakan adalah “Batas” karya Aan Mansyur, dibawakan oleh Farah, anggota komunitas tersebut. Puisi ini mengangkat tema batasan dalam kehidupan, yang dirangkai dengan metafora kerinduan antar pulau atau kasih seorang ibu kepada anaknya.
Farah membawakan puisi dengan penghayatan dan irama yang pas, seolah memadukan bait-bait puisi dengan suasana mendung di tepi embung. Para pendengar tampak hanyut dalam emosi yang tersampaikan, diakhiri dengan tepuk tangan meriah.
“Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang dapat menarik perhatian pembaca maupun pendengar. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa sastra itu begitu luas dan memiliki daya tarik tersendiri,” ujar Farah.
Peran Perpustra
Perpustra, komunitas literasi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menjadi salah satu penggerak kegiatan ini. Melalui kolaborasi dengan Festival Sastra Yogyakarta, mereka berupaya memperluas jangkauan literasi kepada masyarakat umum.
Festival Sastra Yogyakarta terus menghadirkan kegiatan yang mendekatkan sastra kepada masyarakat. Silent reading dan pembacaan puisi di tepi embung menjadi bukti bahwa sastra mampu menciptakan ruang refleksi dan dialog yang bermakna.