Nama Kampung Berdasarkan Nama Dalem Pangeran di Kecamatan Keraton Yogyakarta

Tempat tinggal para pangeran ataupun  bangsawan disebut dengan nama Dalem. Bentuk bangunan  dan atributnya merupakan prototipe corak rumah Jawa lengkap. Hal ini tentunya mengacu kepada bangunan-bangunan inti di Keraton Struktur tata ruangnya secara lengkap terdiri dari gledhegan / gapura (akses pintu masuk), pendapa, pringgitan, dalem ageng (dilengkapi senthong tengah, kiwa dan tengen), gadri, gandhok (kiwa dan tengen), saketheng dan pawon. 

Keberadaan dalem secara konsentris menyebar di sekitar benteng, cepuri keraton ( njeron beteng ) dan di sekeliling benteng baluwarti (njaban beteng). Komplek dalem dikelilingi benteng tinggi dan dilengkapi gapura. Bagi masyarakat di lingkunganyna, dalem menjadi salah satu penanda fisik yang menonjol dan sekaligus sebagai " pusat orientasi". Sehingga di lingkungan tersebut banyak dihuni oleh warga masarakat magersari atau pengindung. Pada akhirnya, sebagian besar dalem kemudian namanya diabadikan menjadi nama kampung maupun nama jalan di kota Yogyakarta.

Kampung Kadipaten, kampung Kadipaten berada di sekitar dalem Adipati Anom (putra mahkota) KGPAA. Hamengku Negoro (GPH. Hangabehi, putra ke -1 Hamengku Buwana VI dari garwa permaisuri GKR Sultan atau GKR Hageng. Setelah beliau dinobatkan menjadi Sultan Hamengku Buwana VII, dalem tersebut ditempati adiknya, yaitu KPPA Mangkubumi, sehingga dikenal dengan nama Mangkubumen.

Kampung Suryoputran, kampung Suryoputran berada berada di sekitar dalem GPH. Suryoputra, tepatnya di sebelah Magangan Keraton. GPH. Suryoputro adalah salah seorang putra Hamengkubuwana VI dari garwa BRAy. Retnoningdiah, dalem tersebut juga dikenal dengan nama Ngadikusuman. Dalem tersebut berada di Jalan Suryoputran.

Kampung Ngadisuryan, kampung Ngadisuryan adalah nama kampung di sekitar dalem BPH. Hadisuryo, putra Hamengku Buwono VII dengan garwa BRAy. Retnowinardi. Dalem tersebut berada di sebelah barat Alun-alun Selatan, di Jalan Ngadisuryan. Dalem tersebut sebelumnya ditempati oleh GPH. Buminoto, putra Hamengku Buwono VI dari garwa permaisuri GKR. Kencono. Oleh karena itu uga dkenal dengan nama Buminatan. Dan pada masa Hamengku Buwono VIII ditempati oleh putranya dari garwa BRAy. Puspitoningdiah yaitu GBPH. Hangabehi, sehingga dikenal pula dengan nama dalem Ngabean.

Kampung Pakuningratan, kampung Pakuningratan adalah wilayah disekitar dalem BPH. Pakuningrat, suami GKR Pembayun ( putri ke-1 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy. Pujoningdiah). Dalem ini juga dikenal dengan nama Purbayan, karena sebelumnya diperuntukkan untuk kediaman GPH. Puruboyo putra Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR. Hemas. Dalem tersebut merupakan tempat kelahiran GRM. Dorojatun yang kemudian menjadi Hamengku Buwono IX. Dalem ini terletak di sebelah utara simpul jalan Palawijan-Jalan Magangan Kulon dan Jalan Taman.

Kampung Panembahan, kampung Panembahan adalah kampung di sekitar dalem kediaman Gusti Panembahan Mangkurat (GPH. Mangkubumi), yaitu putra Hamengku Buwono II dari garwa permaisuri GKR. Kedhaton. Saat ini dalem tersebut sudah tidak ada. Sebagian bangunan yang masih ada adalah bangunan Masjid Selo dan sepasang gapura di selatan Plengkung Tarunasura. Tapak dalem tersebut menjadi perkampungan penduduk dan dalam arah utara-selatan dibelah poros jalan Panembahan Mangkurat, ke utara menuju  jalan Wijilan sampai Plengkung Tarunasura, ke selatan menuju Jalan Gamelan. Sementara ke timur dibelah Jalan Panembahan dan Jalan Mantrigawen, dan ke arah barat dibelah Jalan Kemitbumen.

Kampung Mangunnegaran, Mangunnegaran adalah kampung di sekitar dalem kediaman BRAy. Mangunnegoro, putri Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy. Retnomandoyo. Dalem ini terletak di sebelah tenggara Plengkung Tarunosuro, tepatnya di Jalan Sawojajar. Jaringan jalan di kampung ini yaitu dari Jalan Sawojajar ke arah barat menuju Jalan Wijilan, ke timur menuju Jalan Mangunnegaran Wetan dan ke selatan menuju Jalan Mangunnegaran Kidul. Kampung Mangunneran berdekatan dengan kampung Panembahan.

Kampung Wijilan, kampung Wijilan berada di sekitar dalem KRT. Wijil, suami GKR. Dewi putri Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR. Kencono. Dalem tersebut kemudian ditempati oleh BRA. Condrokirono, putri Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR. Kencono. BRAy. Condrokirono menempati dalem tersebut setelah suaminya, yaitu KPH Harjokusumo pensiun sebagai path Danurejo VIII. Oleh karena itu dalem tersebut juga dikenal dengan nama dalem Condrokiranan. Dalem tersebut terletak di sebelah barat daya Plengkung Tarunasura, di sebelah barat Jalan Wijilan. 

sumber : Toponim Kota Yogyakarta, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta, Tahun 2007