Halo Sobat Budaya!

Tentu sobat budaya pernah melihat pertunjukan pada Bangunan atau Gedung yang berhiaskan cahaya lampu warna-warni membentuk aneka visual yang dapat berubah-ubah serta diiringi musik. Pertunjukan tersebut merupakan bentuk dari pertunjukkan seni visual atau akrab disebut Video Mapping.

Video mapping atau projection mapping merupakan sebuah teknik pencahayaan artistik yang membuat benda-benda yang umumnya bukan bidang datar melainkan seperti tumpukan kotak, bangunan, gedung, atau bahkan sebuah candi menjadi layar tampilan untuk sebuah proyeksi video. Video mapping membutuhkan tempat yang gelap atau biasanya dilakukan pada malam hari agar terdapat kontras dari warna proyeksi dan background yang gelap sehingga menciptakan warna proyeksi yang terang dan jelas. Dengan menggunakan software khusus, video dan pencahayaan yang tepat, bentuk wadah proyeksi yang menjadi sorotan seakan-akan berubah wujud, seperti runtuh atau menggembung dan lainnya sesuai dengan ciptaan atau keinginan desainer video tersebut.

Gambar 1.  Pertunjukan Video Mapping Sumonar My Place, My Time” 2019 (Foto : goodnewsfromindonesia.id)

Di era perkembangan teknologi saat ini Video mapping menjadi akrab bagi para seniman sebagai media baru dalam menyalurkan karya mereka. Di Yogyakarta sendiri, video mapping telah diperkenalkan kepada masyarakat sejak tahun 2013 dan terbentuk sebuah kelompok kolektif yang fokus mengembangkan hal tersebut dengan nama Jogjakarta Video Mapping Project (JVMP). Dalam perkembangannya, di tahun 2018 JVMP memutuskan untuk memisahkan diri dari FKY menjadi bentuk festival dengan nama Jogjakarta Video Mapping Festival (JVMF). Kemudian di tahun 2019 event JVMF pun berganti menjadi SUMONAR agar cakupan festival ini bisa lebih luas dari skala nasional dan membuat festival ini menjadi festival video mapping pertama di Indonesia berskala internasional.

Sumonar merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu Sumon dan Sumunar. Sumon sendiri memiliki arti mengumpulkan, sementara Sumunar memiliki makna bercahaya. Melalui Festival Video Mapping Sumonar,  bangunan, tembok, pagar, gedung, monumen, dan bangunan lain yang biasanya dianggap sebagai penghalang, bahkan kadang sama sekali tidak dianggap menjadi terlihat, serta memiliki fungsi baru dalam seni.

Gambar 2.  Pertunjukan Video Mapping Sumonar 2020 di Panggung Krapyak (Foto : sumonarfest.com)

Beberapa event Festival Video Mapping Sumonar dengan skala internasional diantaranya “My Place, My Time” pada tahun 2019 bertempat di seputaran Kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta. Kemudian di tahun 2020 di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19, Sumonar tetap diselenggarakan dengan konsep virtual mengusung tema “Mantra Lumina” sebagai wujud gerakan para seniman untuk menolak menyerah terhadap kondisi pandemi. Meskipun digelar secara virtual, Sumonar 2020 tetap menyajikan video mapping yang ditembakan ke Panggung Krapyak dengan konten visual dari 21 seniman lokal maupun internasional. Selain itu, karya para seniman internasional yang turut berkontribusi juga disajikan dalam program Interactive Light Art Installation dan Architectural Projection Mapping yang dapat diakses melalui website resmi SUMONAR 2020 di www.sumonarfest.com.

 

Salam Budaya !!

Lestari Budayaku !!